Varietas padi Basmati metode SRI berhasil panen di Parindu, Sanggau

Demplot Padi Varietas Basmati telah panen di Desa Suka Gerundi, Parindu, Sanggau

Naturalkapital.or.id - Padi Varietas Basmati berhasil dikembangkan di Parindu Sanggau. Varietas padi asal Aceh ini dikembangkan dalam skala demplot dengan metode SRI atau System of Rice Intensification.

Metode SRI awalnya dikembangkan di Madagascar oleh Pastor Hendri De Laulanie SJ. Hendri sendiri menganggap penemuan metode ini berasal dari sebuah ‘kecelakanaan’. saat kecilnya lahan untuk persemaian dan waktu yang pendek. Hasilnya, sebagian benih yang ditebar harus dipindahkan lebih cepat yaitu selama 15 hari. Kecelakaan itu menjadi keuntungan karena jumlah anakan per rumpun sangat besar, bahkan mengalahkan metode konvensional yang biasanya dipakai.

Metode ini memiliki keuntungan dengan pengelolaan yang efektif, produktivitas lebih tinggi dan ramah lingkungan karena lebih hemat air dibanding sawah konvensional serta bertumpu utama pada pupuk organic. Jika dibandingkan dengan metode konvensional, metode SRI, dapat menghemat penggunaan bibit hingga 2x lipat atau sebanyak 5 - 10 kg/ha.

Metode SRI dalam perkembangannya meluas sampai ke negara lain termasuk Indonesia. Di Indonesia, metode SRI mulai dikembangkan pada tahun 1999 dengan hasil 6,2 ton/ha pada musim kemarau dan pada musim hujan 1999/2000 menghasilkan padi rata-rata 8,2 ton/ha.

Sementara itu, demplot padi yang dibangun oleh YNKI bersama dengan Kelompok Tani Hasi atas dukungan Nordic Microfinance Initiative (NMI) memilih metode SRI dengan dipadukan dengan padi varietas Basmati mengingat pertanian di Parindu yang belum optimal. Dengan metode SRI, benih unggul diharapkan dapat cocok dengan kondisi tanah yang pada akhirnya meningkatkan produktivitas petani.

Fase pembangunan demplot dimulai dengan persiapan lahan. Lahan yang tersedia berupa lebak. Lahan  diolah dengan traktor dan juga pelumatan. Tanah tersebut juga ‘dimatangkan’ dengan penambahan pupuk dan dolomit untuk meningkatkan nilai pH.

Sistem drainase juga menjadi bagian penting di metode SRI. Dengan adanya drainase, air dijaga agar tanah tetap pada keadaan macak-macak dengan ketinggian air sekitar 1-2 cm. Pengairan juga bertujuan untuk menjaga kelembapan tanah dan suhu. Menurut Henri dalam catatannya mengenai Metode SRI, pengairan dan pengeringan tanah perlu dilakukan agar mikroorganisme dalam tanah dan akar bawaan dapat mendapat oksigen yang cukup dan kondisi yang nyaman sehingga pertumbuhan menjadi lebih alami.

Setelah tanah siap, dan bibit telah berumur minimal 7 hari, Pemindahan tanam bibit siap dilakukan. Penanaman menggunakan system ubin dengan jarak tanam 30x40 cm. Hal lain yang berbeda dari metode konvensional adalah kedalaman tanam bibit yang hanya 0,5-1 cm dengan tiap lubang/ubin menggunakan hanya satu buah bibit. Setelah penanaman, masa vegetative atau pertumbuhan anakan dimulai.

Air harus tetap dijaga pada fase tersebut. Baru sampai pada 45 Hari setelah tanam (HST) tanah mulai dikeringkan hingga retak untuk menghentikan tumbuhnya anakan. Pengairan untuk mengembalikan kelembapan tanah seperti semula Kembali dilakukan saat padi memasuki umur 55 HST yang juga fase bulir mulai tumbuh.

Pada masa panen kondisi Padi Basmati yang berkembang anakan yang didapat per rumpun mencapai 25-30 anakan(stem) dan jumlah malai per rumpun sekitar 25-27. Angka bulir per malai juga bervariasi dari 130-250 bulir padi. Angka ini cukup besar jika dibandingkan dengan metode konvensional yang umumnya hanya memiliki anakan dalam satu rumpun sekitar 17 batang.

Hasil ini cukup membanggakan mengingat petani merasa masih banyak perlakuan yang kurang maksimal dan bisa dikembangkan. Hasil dari panen juga akan disisihkan untuk keperluan benih untuk keperluan musim tanam baru. Hasil ini juga berhasil membangkitkan rasa ingintahu petani untuk Kembali mencoba metode SRI dengan varietas Basmati.

Kedepan, Kelompok Petani Hasi dan Kelompok Tani Karya Usaha akan menanam padi di musim gadu menggunakan benih basmati yang diusahakan sebelumnya. Kelompok tani akan memulai tanam padi varietas Basmati dan Sikumpai masih dengan dampingan YNKI.